Showing posts with label cerpen. Show all posts
Showing posts with label cerpen. Show all posts

Friday, March 11, 2016

Cerpen: Sosok Yang Sering Terlupakan Tapi Penuh Cinta.

di balik kerasnya raut wajahnya, di balik kokoh tubuhnya di
balik kasar tapak tangannya
ada banyak cinta untuk mu

Ayah, Sosok Kuat Nan Kekar yang kerap memarahi kamu. tapi Tahukah Kamu di sebalik semua itu dia hanya memikirkan kebahagiaan dan keselamatanmu..?
Mungkin ibu lebih kerap menelpon untuk menanyakan keadaanku setiap hari, tapi apakah aku tahu, bahwa sebenarnya ayahlah yang mengingatkan ibu untuk meneleponku?

Semasa kecil, ibukulah yang lebih sering menggendongku. Tapi apakah aku tau bahwa ketika ayah pulang bekerja dengan wajah yang letih ayahlah yang selalu menanyakan apa yang aku lakukan seharian, walau beliau tak bertanya langsung kepadaku karena saking letihnya mencari nafkah dan melihatku terlelap dalam tidur nyenyakku. 

ayah akan selalu mengajarimu tentang hidup dan kehidupan ini
agar engkau siap mengarungi bahtera kehidupan

Saat aku sakit demam, ayah membentakku “Sudah diberitahu, Jangan minum es!” Lantas aku merengut menjauhi ayahku dan menangis didepan ibu. 

Tapi apakah aku tahu bahwa ayahlah yang risau dengan keadaanku, sampai beliau hanya bisa menggigit bibir menahan kesakitanku. 

Ketika aku remaja, aku meminta izin untuk keluar malam. Ayah dengan tegas berkata “Tidak boleh! ”Sadarkah aku, bahwa ayahku hanya ingin menjaga aku, beliau lebih tahu dunia luar, dibandingkan aku bahkan ibuku? 

Karena bagi ayah, aku adalah sesuatu yang sangat berharga. Saat aku sudah dipercayai olehnya, ayah pun melonggarkan peraturannya. 

Maka kadang aku melanggar kepercayaannya. Ayahlah yang setia menunggu aku diruang tamu dengan rasa sangat risau, bahkan sampai menyuruh ibu untuk mengontak beberapa temannya untuk menanyakan keadaanku, ”dimana, dan sedang apa aku diluar sana.” 

Ayah Akan selalu membawamu ketempat-tempat yang indah
agar engkau senang dan bahagia

Setelah aku dewasa, walau ibu yang mengantar aku ke sekolah untuk belajar, tapi tahukah aku, bahwa ayahlah yang berkata: Ibu, temanilah anakmu, aku pergi mencari nafkah dulu buat kita bersama. 

Disaat aku merengek memerlukan ini – itu, untuk keperluan kuliahku, ayah hanya mengerutkan dahi, tanpa menolak, beliau memenuhinya, dan cuma berpikir, kemana aku harus mencari uang tambahan, padahal gajiku pas-pasan dan sudah tidak ada lagi tempat untuk meminjam. 

Saat aku berjaya. Ayah adalah orang pertama yang berdiri dan bertepuk tangan untukku. Ayahlah yang mengabari sanak saudara, ”anakku sekarang sukses.” Walau kadang aku cuma bisa membelikan baju koko itu pun cuma setahun sekali. Ayah akan tersenyum dengan bangga. 

Dalam sujudnya ayah juga tidak kalah dengan doanya ibu, cuma bedanya ayah simpan doa itu dalam hatinya. Sampai ketika nanti aku menemukan jodohku, ayahku akan sangat berhati – hati mengizinkannya. 

Di setiap Denyut Nadinya
Dia akan Selalu Berdoa Untuk Anaknya

Dan akhirnya, saat ayah melihatku duduk diatas pelaminan bersama pasanganku, ayahpun tersenyum bahagia. Lantas pernahkah aku memergoki, bahwa ayah sempat pergi ke belakang dan menangis? Ayah menangis karena ayah sangat bahagia. Dan beliau pun berdoa, “Ya Alloh, tugasku telah selesai dengan baik. Bahagiakanlah putra putri kecilku yang manis bersama pasangannya. 

”Pesan ibu ke anak untuk seorang Ayah” 

Anakku.. 

Memang ayah tidak mengandungmu,
tapi darahnya mengalir di darahmu, namanya melekat dinamamu …
Memang ayah tak melahirkanmu,
Memang ayah tak menyusuimu,
tapi dari keringatnyalah setiap tetesan yang menjadi air susumu … 


Nak.. 

Ayah memang tak menjagaimu setiap saat,
tapi tahukah kau dalam do’anya selalu ada namamu disebutnya …
Tangisan ayah mungkin tak pernah kau dengar karena dia ingin terlihat kuat agar kau tak ragu untuk berlindung di lengannya dan dadanya ketika kau merasa tak aman… 

Pelukan ayahmu mungkin tak sehangat dan seerat bunda, karena kecintaanya dia takut tak sanggup melepaskanmu…
Dia ingin kau mandiri, agar ketika kami tiada kau sanggup menghadapi semua sendiri.. 

Bunda hanya ingin kau tahu nak..
bahwa…
Cinta ayah kepadamu sama besarnya dengan cinta bunda..
Anakku…
Jadi didirinya juga terdapat surga bagimu… Maka hormati dan sayangi ayahmu.

Monday, February 22, 2016

Cerpen: Penjual Koran Satu Lengan

Ilustration Foto By Google Image

Oleh Arswendo Atmowiloto
Lelaki penjual koran dengan satu lengan sudah menceritakan semua. Sehingga tak ada yang perlu menanyakan siapa namanya. Atau alamatnya, karena dia bisa dilihat di perempatan jalan, saat lampu merah. Sebenarnya bukan perempatan jalan dalam arti sebenarnya. Karena jalanan itu tidak lurus, sedikit melengkung, menikung, sehingga lampu merah atau hijau bisa membuat bingung untuk pengendara dari arah mana. Juga tak ada yang bertanya kenapa tangannya buntung. Wajahnya tidak murung. Malah mengesankan beruntung memperoleh sinar matahari dari masih sangat pagi hingga lewat tengah hari. Yang tidak membuatnya lebih hitam, dan dikenali karena bau tubuhnya yang diteruskan angin yang lelah, yang kalah oleh asap apa saja.
Karena dianggap sudah terceritakan semua, tak ada yang bertanya apakah dia punya keluarga, atau pernah berkeluarga, atau istrinya dua. Yang agak diketahui tetangga, pernah ada gadis masih sangat muda tinggal di kontrakannya. Gadis belia itu pembantu rumah tangga keluarga kaya, yang rumahnya sering dilewati penjual koran yang meminjami majalah atau tabloid. Umurnya sekitar 15 tahun, senyumnya—atau matanya—anggun, hanya agak malu-malu karena seakan memiliki jakun. Gadis itu datang ke kontrakannya dan mengatakan akan tinggal selama seminggu. Pembantu lain dapat liburan Lebaran, tapi gadis yang alisnya tebal dengan suara kental tak punya rumah tinggal. Lelaki penjual koran itu menasihati, sebaiknya mereka menikah saja. Gadis itu mau, dan meyakini bahwa dengan tangan satu, lelaki itu mampu merayu. Lelaki itu juga memberi saran, sementara gadis bertubuh sintal itu bekerja sebagai pembantu interval yang sangat dibutuhkan. Lumayan dapat duit tambahan, dan siapa tahu ketemu majikan yang khilaf. Dari koran pula didapat alamat, dan sejak pergi ke sana, tak pernah kembali lagi. Lelaki itu juga tidak mencari, tidak merasa rugi, meskipun kadang ingat saat mandi bersama.
Ilustrasi Foto By Google Image
Lelaki itu lebih suka bercerita bahwa adakalanya tangannya menjadi berat, kalau banyak koran menambah halaman, tapi tidak menambah harga. Atau malah diberi jaket bagus bertuliskan nama media, karena biasanya lengan panjang dan menambah panas. Paling senang kalau dagangannya diborong oleh pembeli dadakan karena tidak ingin majalah beredar. Harganya bisa mahal, tapi itu jarang. Dia mengambil dagangan sesuai kemampuan menjual, bukan konsinyasi. Kalau tak laku, itu tanggung jawabnya. Kalau siang, temannya menjual seribu rupiah, tapi dia tetap mempertahankan. Kata-katanya sedikit mengherankan. ”Saya tak tega. Walau sudah siang, rasanya beritanya tidak harus menjadi murah.”  Ia mengatakan dengan wajah tetap ramah, tidak marah, tidak juga gelisah.
Entah kenapa tampilannya tidak terlihat resah, dan tidak pernah menyalahkan. Bahkan ketika perempatan jalan tempatnya bekerja menjadi bubrah lantaran di atasnya akan dibangun jembatan layang, dia sama sekali tidak gundah. Langkahnya tetap gagah meloncati batu atau semen berbongkah, dengan wajah tetap tengadah ke jendela mobil mewah atau biasa. Semangatnya sama sekali tidak goyah. Malah memberi khotbah pemuda yang baru pulang kuliah. Katanya, ”Yang menjadi korban jalan layang adalah para pengasong. Bahkan kalau di jalan layang itu ada kemacetan, kita tetap tak boleh jualan di situ.” Segala apa dihadapi dengan tabah. Sewaktu listrik di rumah kontrakannya sering mati mendadak, ia tidak berteriak atau memaki. Ia bahkan memuji petugas listrik yang baik hati.
”Baik hati kepada nyamuk. Dengan matinya aliran listrik, nyamuk yang tak bisa masuk kamar berpendingin kini punya kesempatan. Dengan lampu penerangan yang gelap, nyamuk lebih meluasa menyergap.” Kalau tetangga kontrakan mengomel soal laporan listrik padam yang ditanya segala apa sehingga menjengkelkan, ia menasihati: ”Semua laporan pelayanan sosial dibuat tidak menyenangkan. Tujuannya agar kalian tidak perlu melapor, membuang pulsa, dan menjadi sakit hati.” Intinya: ”Para petugas sudah akan memperbaiki tanpa adanya laporan.”
Lelaki berlengan satu itu menyukai pekerjaannya, melakukan tanpa menggerutu. Bahkan tak tergoda menjadi pengemis seperti perempuan yang menutupi sebagian wajahnya dengan selendang biru. Yang pendapatannya jauh lebih besar, tanpa perlu mengambil dagangan dan menyetorkan penghasilan, seperti dirinya. Perempuan yang menengadahkan tangannya dan memamerkan wajah pilu itu mendapatkan penghasilan dari rasa iba sekurangnya setiap sepuluh mobil yang dilalui. Satu kali pemberian bisa seharga koran yang dijualnya. Yang diterima secara utuh. ”Kamu lebih beralasan mengemis karena tanganmu satu.” Tapi ia tak melakukan itu. Juga tidak ketika beberapa ibu-ibu yang lain, berjajar menjadi joki 3 in 1.Padahal, sekali diajak, pendapatannya cukup besar dibandingkan dengan dirinya.
”Tak apa. Selama masih ada orang membeli koran di jalanan, saya masih akan jualan.” Kalau ada yang mulai dikeluhkan terutama karena sinar matahari makin terik, dan pantulan pada aspal semakin keras menusuk matanya. Sehingga kadang membuat agak kabur, mengernyitkan jidat dan hati-hati. Juga kalau hujan menderas, ia berteduh dan mengutamakan koran dagangannya, bukan hanya tubuhnya. Selebihnya biasa-biasa saja, dan ia menyukai semuanya: panas, hujan atau biasa.
Ilustrasi Foto By Google Image

Selalu di jalan yang sama, pada saat-saat tertentu yang sama, ia mengenali, ia hafal para pengguna jalan. Baik yang selalu tergesa atau yang tidak tiap hari melalui jalan itu. Baik yang berpasangan atau yang sambil mencukur kumis, atau sibuk berteleponan, atau yang tidur lelap. Baik yang menggunakan mobil pribadi—yang kemudian berganti lebih baru, atau berdiri di pintu mobil angkutan seolah siap turun. Semua menarik diamati, tetapi ada satu yang memikat. Seorang perempuan—ia yakin itu perempuan walau tubuhnya ditutup jaket dan helm, dengan sepeda motor warna merah. Karena selalu berhenti di dekat lampu merah. Lama. Matanya menatap sekitar—walau tersembunyi di balik helm. Tadinya ia mengira perempuan itu menunggu kesempatan untuk melintas saat jalanan sepi, atau ada lampu hijau. Tapi karena lama, ia ingin tahu apa yang dilakukan perempuan bersepeda motor itu. Baru kemudian ia tahu perempuan itu menunggu sesuatu. Baru setelah sesuatu itu dilihat atau diketahui, perempuan itu berlalu. Sesuatu yang ditunggu itu, menurutnya kendaraan lain yang melintas. Jadi setelah melihat kendaraan yang ditunggu terlintas, perempuan itu meneruskan perjalanan. Ia kemudian tahu bahwa yang ditunggu adalah mobil warna silver yang keluar dari salah satu perempatan. Mungkin sekali perempuan itu kekasih pemakai mobil, mungkin apanya begitu, mungkin kesetiaan yang langka, mungkin lebih dari semuanya.
Lelaki penjual koran sesekali ingin memberi tahu apakah mobil silver itu sudah lewat atau belum. Tapi ia tak ingin campur tangan, dan hampir selalu perempuan itu tiba lebih dulu.  Jadinya ia menikmati saja, seolah tak tahu apa-apa, tapi terasakan tungguan kerinduan itu. Lelaki itu ikut merasa bahagia, menelan ludahnya, berusaha tersenyum kepadanya. Tak ada jawaban, karena kalaupun ada juga tak terlihat tak tersirat karena helm menutup rapat.
Ketika koran-koran terbit di hari libur nasional, ia tidak menjajakan. Mungkin sekali karena perempuan berhelm itu tidak akan muncul. Ia bisa merasakan menunggu perempuan itu, sama dengan yang dirasakan perempuan. Mungkin juga sama: perempuan itu tak tahu ditunggu olehnya, atau pengemudi mobil silver itu ditunggui perempuan berhelm. Padahal pada hari libur ia tak ke mana-mana. Di kamar kontrakannya, membacai koran lama yang tak terjual, yang disusun bertumpuk urutan tanggal terbit. Pernah ada yang datang mencari terbitan tanggal berapa, ia senang kalau bisa memberikan. Dan menolak dibayar lebih mahal. ”Menjadi sangat berguna tidak selalu harus menjadi lebih mahal.”  Ia betah di rumah—atau kamar kontrakan, yang sudah dihuni belasan tahun, yang uang sewanya dibayar setiap bulan, yang tetangga kiri kanan berubah dan berganti, yang penagihnya berganti, yang uang sewanya bertambah, yang udaranya makin gerah.
Pernah, lelaki berlengan satu itu berjalan menyusuri jalanan di mana perempuan bermotor itu muncul. Menelusuri jalanan, memandangi kira-kira dari sebelah mana, bagian mana perempuan itu mengontrak. Siapa keluarganya, berapa nilai kontraknya, atau umurnya, atau seperti apa wajahnya. Tapi usaha itu tak diteruskan, karena merasa itu tak mengurangi rasa ingin tahunya, dan tidak mengurangi kagum pada kesetiaan perempuan itu. Sebagai penjual koran ia terbiasa dengan potongan-potongan kehidupan yang berdiri sendiri, tak selalu berhubungan satu dengan yang lain. Seperti juga anak gadis yang pernah menginap di kamar kontrakannya yang tak harus ada lanjutan kisahnya sekarang di mana dan sebagai apa, atau masih ingatkah padanya. Seperti juga perempuan berjaket ketat rapat apa benar menunggui siapa dan apa hubungannya.
Berita yang dibaca dalam koran dan majalah yang dijajakan adalah potongan yang berdiri sendiri. Yang heboh hari ini, roboh sendiri hari berikutnya—atau minggu berikutnya. Yang ceroboh hari ini, atau melakukan tindakan bodoh, yang tergopoh diberitakan, terlupakan kemudian. Ia terbiasa membaca begitu di halaman satu, dan merasa tak terlalu perlu melanjutkan di halaman sambungan. Ia melihat iklan-iklan gede, dan melupakan bahwa jalanan tempatnya bekerja tak kunjung selesai pembuatannya. Kalau pun kemudian merasa satu dan hal lain berhubungan, karena ia menghubung-hubungkan, seperti perempuan bersepeda motor menunggui mobil silver lewat. Apa benar begitu, ia juga tak tahu persis. Namun ia cukup puas dengan apa yang diperkirakan, dan merasa menemukan jawaban. Seperti juga mereka yang melihatnya, mengenali, dan memperoleh jawaban kenapa lengannya satu, kenapa panas matahari kian menyakitkan mata, dan dagangan yang dibawanya makin tebal, makin berat. Semua ini membuat  bahagia, sehingga kemudian ia mengajak tetangga sebelah pintu untuk menggantikan berjualan di lampu merah.  ”Saya makin tua, tapi perempatan itu tetap muda. Masih selalu ada pembeli di sana. Dan mereka tidak bertanya kenapa bukan saya yang berjualan.”
Lelaki satu lengan itu masih di perempatan. Kali ini ia memperhatikan dan cemas, kalau-kalau perempuan bermotor itu tak terlihat.

Karya Ilustrasi: Suprobo Prasada
Terbit di Harian Kompas pada 11 Mei 2014

Saturday, February 20, 2016

Cerita Anak: Enam Serdadu


Pada suatu masa ada seorang pria yang hebat, dia telah membaktikan diri pada negara dalam perang, dan mempunyai keberanian yang luar biasa, tetapi pada akhirnya dia dipecat tanpa alasan apapun dan hanya memiliki 3 keping uang logam sebagai hartanya.
"Saya tidak akan diam saja melihat hal ini," katanya; "tunggu hingga saya menemukan orang yang tepat untuk membantu saya, dan raja harus memberikan semua harta dari negaranya sebelum masalah saya dengan dia selesai."
Kemudian, dengan penuh kemarahan, dia masuk ke dalam hutan, dan melihat satu orang berdiri disana mencabuti enam buah pohon seolah-olah pohon itu adalah tangkai-tangkai jagung. Dan dia berkata kepada orang itu,
"Maukah kamu menjadi orangku, dan ikut dengan saya?"
"Baiklah," jawab orang itu; "Saya harus membawa pulang sedikit kayu-kayu ini terlebih kerumah ayah dan ibuku." Dan mengambil satu persatu pohon tersebut, dan menggabungkannya dengan 5 pohon yang lain dan memanggulnya di pundak, dia lalu berangkat pergi; segera setelah dia datang kembali, dia lalu ikut bersama dengan pimpinannya, yang berkata,
"Berdua kita bisa menghadapi seluruh dunia."
Dan tidak lama mereka berjalan, mereka bertemu dengan satu orang pemburu yang berlutut pada satu kaki dan dengan hati-hati membidikkan senapannya.
"Pemburu," kata si pemimpin, "apa yang kamu bidik?"
"Dua mil dari sini," jawabnya, "ada seekor lalat yang hinggap pada pohon Oak, Saya bermaksud untuk menembak mata kiri dari lalat tersebut."

"Oh, ikutlah dengan saya," kata si Pemimpin, "Bertiga kita bisa menghadapi seluruh dunia"
Pemburu tersebut sangat ingin ikut dengannya, jadi mereka semua berangkat bersama hingga mereka menemukan tujuh kincir angin, yang baling-baling layarnya berputar dengan kencang, walaupun disana tidak ada angin yang bertiup dari arah manapun, dan tak ada daun-daun yang bergerak.
"Wah," kata si Pemimpin, "Saya tidak bisa berpikir apa yang menggerakkan kincir angin, berputar tanpa angin;" dan ketika mereka berjalan sekitar dua mil ke depan, mereka bertemu dengan seseorang yang duduk diatas sebuah pohon, sedang menutup satu lubang hidungnya dan meniupkan napasnya melalui lubang hidung yang satu.
"Sekarang," kata si Pemimpin, "Apa yang kamu lakukan diatas sana?"
"Dua mil dari sini," jawab orang itu, "disana ada tujuh kincir angin; saya meniupnya hingga mereka dapat berputar."
"Oh, ikutlah dengan saya," bujuk si Pemimpin, "Berempat kita bisa menghadapi seluruh dunia."
Jadi si Peniup turun dan berangkat bersama mereka, dan setelah beberapa saat, mereka bertemu dengan seseorang yang berdiri diatas satu kaki, dan kaki yang satunya yang dilepas, tergeletak tidak jauh darinya.
"Kamu terlihat mempunyai cara yang unik saat beristirahat," kata si Pemimpin kepada orang itu.
"Saya adalah seorang pelari," jawabnya, "dan untuk menjaga agar saya tidak bergerak terlalu cepat Saya telah melepas sebuah kaki saya, Jika saya menggunakan kedua kaki saya, Saya akan jauh lebih cepat dari pada burung yang terbang."
"Oh, ikutlah dengan saya," kata si Pemimpin, "Berlima kita bisa menghadapi seluruh dunia."
Jadi mereka akhirnya berangkat bersama, dan tidak lama setelahnya, mereka bertemu dengan seseorang yang memakai satu topi kecil, dan dia memakainya hanya tepat diatas satu telinganya saja.
"Bersikaplah yang benar! bersikaplah yang benar!" kata si Pemimpin; "dengan topi seperti itu, kamu kelihatan seperti orang bodoh."

"Saya tidak berani memakai topi ini dengan lurus," jawabnya lagi, "Jika saya memakainya dengan lurus, akan terjadi badai salju dan semua burung yang terbang akan membeku dan jatuh mati dari langit ke tanah."
Oh, ikutlah dengan saya," kata si Pemimpin; "Berenam kita bisa menghadapi seluruh dunia."
Jadi orang yang keenam ikut berangkat bersama hingga mereka mencapai kota dimana raja yang menyebabkan penderitaannya akan memulai pertandingan dimana siapapun yang jadi pemenang akan dinikahkan dengan putrinya, tetapi siapapun yang kalah akan dibunuh sebagai hukumannya. Lalu si Pemimpin maju kedepan dan berkata bahwa satu dari orangnya akan mewakili dirinya dalam pertandingan tersebut.
"Kalau begitu," kata raja, "hidupnya harus dipertaruhkan, dan jika dia gagal, dia dan kamu harus dihukum mati."
Ketika si Pemimpin telah setuju, dia memanggil si Pelari, dan memasangkan kakinya yang kedua pada si Pelari.
"Sekarang, lihat baik-baik," katanya, "dan berjuanglah agar kita menang."
Telah disepakati bahwa siapapun yang paling pertama bisa membawa pulang air dari anak sungai yang jauh dan telah ditentukan itu akan dianggap sebagai pemenang. Sekarang putri raja dan si Pelari masing-masing mengambil kendi air, dan mereka mulai berlari pada saat yang sama; tetapi dalam sekejap, ketika putri raja tersebut berlari agak jauh, si Pelari sudah hilang dari pandangan karena dia berlari secepat angin. Dalam sekejap dia telah mencapai anak sungai, mengisi kendinya dengan air dan berlari pulang kembali. Ditengah perjalanan pulang, dia mulai merasa kelelahan, dan berhenti, menaruh kendinya dilantai dan berbaring di tanah untuk tidur. Agar dapat terbangun secepatnya dan tidak tertidur pulas, dia mengambil sebuah tulang tengkorak kuda yang tergeletak didekatnya dan menggunakannya sebagai bantal. Sementara itu, putri raja, yang sebenarnya juga pelari yang baik dan cukup baik untuk mengalahkan orang biasa, telah mencapai anak sungai juga, mengisi kendinya dengan air, dan mempercepat larinya pulang kembali, saat itu dia melihat si Pelari yang telah tertidur di tengah jalan.
"Hari ini adalah milik saya," dia berkata dengan gembira, dan dia mengosongkan dan membuang air dari kendi si Pelari dan berlari pulang. Sekarang hampir semuanya telah hilang tetapi si Pemburu yang juga berdiri di atas dinding kastil, dengan matanya yang tajam dapat melihat semua yang terjadi.
"Kita tidak boleh kalah dari putri raja," katanya, dan dia mengisi senapannya, mulai membidik dengan teliti dan menembak tengkorak kuda yang dijadikan bantal dibawah kepala si Pelari tanpa melukai si Pelari. Si Pelari terbangun dan meloncat berdiri, dan melihat banya kendinya telah kosong dan putri raja sudah jauh berlari pulang ke tempat pertandingan dimulai. Tanpa kehilangan keberaniannya, dia berlari kembali ke anak sungai, mengisi kendinya kembali dengan air, dan untuk itu, dia berhasil lari pulang kembali 10 menit sebelum putri raja tiba.
"Lihat," katanya; "ini adalah pertama kalinya saya benar-benar menggunakan kaki saya untuk berlari"
Raja menjadi jengkel, dan putrinya lebih jengkel lagi, karena dia telah dikalahkan oleh serdadu biasa yang telah dipecat; adn mereka berdua sepakat untuk menyingkirkan serdadu beserta pengikutnya bersama-sama.
"Saya punya rencana," jawab sang Raja; "jangan takut tetapi kita harus mendiamkan mereka selama-lamanya." Kemudian mereka menemui serdadu dan pengikutnya, mengundang mereka untuk makan dan minum; dan sang Raja memimpin mereka menuju ke sebuah ruangan, yang lantainya terbuat dari besi, pintunya juga terbuat dari besi, dan di jendelanya terdapat rangka-rangka besi; dalam ruangan itu ada sebuah meja yang penuh dengan makanan.
"Sekarang, masuklah kedalam dan buatlah dirimu senyaman mungkin," kata sang Raja.
Ketika serdadu dan pengikutnya semua masuk, dia mengunci pintu tersebut dari luar. Dia kemudian memanggil tukang masak, dan menyuruhnya untuk membuat api yang sangat besar dibawah ruangan tersebut hingga lantai besi menjadi sangat panas. Dan tukang masak tersebut melakukan apa yang diperintahkan oleh Raja, dan keenam orang didalamnya mulai merasakan ruangan menjadi panas, tapi berpikir bahwa itu karena makanan yang mereka makan, seiring dengan suhu ruangan yang bertambah panas, mreka menyadari bahwa pintu dan jendela telah dikunci rapat, mereka menyadari rencana jahat sang raja untuk membunuh mereka.
"Bagaimanapun juga, dia tidak akan pernah berhasil," kata laki-laki dengan topi kecil; "Saya akan membawa badai salju yang akan membuat api merasa malu pada dirinya sendiri dan merangkak pergi."
Dia lalu memasang topinya lurus diatas kepala, dan secepat itu badai salju datang dan membuat semua udara panas menjadi hilang dan makanan menjadi beku diatas meja. Setelah satu atau dua jam berlalu, Raya menyangka bahwa mereka telah terbunuh karena panas, dan menyuruh untuk membuka kembali pintu ruangan tersebut, dan masuk kedalam untuk melihat keadaan mereka. Ketika pintu terbuka lebar, mereka berenam ternyata selamat dan terlihat mereka telah siap untuk keluar untuk menghangatkan diri karena ruangan tersebut terlalu dingin dan menyebabkan makanan di meja menjadi beku. Dengan penuh kemarahan, raja mendatangi tukang masak, mencaci dan menanyakan mengapa tukang masak itu tidak melaksanakan apa yang diperintahkan.
"Ruangan tersebut cukup panas; kamu mungkin bisa melihatnya sendiri," kata tukang masak. Sang Raja melihat kebawah ruangan besi tersebut dan melihat api yang berkobar-kobar di bawahnya, dan mulai berpikir bahwa keenam orang itu tidak dapat disingkirkan dengan cara itu. Dia mulai memikirkan rencana baru, jadi dia memanggil serdadu yang menjadi pemimpin tersebut dan berkata kepadanya,
"Jika kamu tidak ingin menikahi putri saya dan memilih harta berupa emas, kamu boleh mengambilnya sebanyak yang kamu mau."
"Baiklah, tuanku Raja," jawab si Pemimpin; "biarkan saya mengambil emas sebanyak yang dapat dibawa oleh pengikutku, dan saya tidak akan menikahi putrimu." Raja setuju bahwa si Pemimpin akan datang dalam dua minggu untuk mengambil emas yang dijanjikan. Si Pemimpin memanggil semua penjahit yang ada di kerajaan tersebut dan menyuruh mereka untuk membuat karung yang sangat besar dalam dua minggu. Dan ketika karung itu telah siap, orang kuat (yang dijumpai mencabut dan mengikat pohon) memanggul karung tersebut di pundaknya dan menghadap sang Raja.

"Siapa orang yang membawa buntalan sebesar rumah di pundaknya ini?" teriak sang Raja, ketakutan karena memikirkan banyaknya emas yang bisa dibawa pergi. Dan satu ton emas yang biasanya diseret oleh 16 orang kuat, hanya di panggulnya di pundak dengan satu tangan.
"Mengapa tidak kamu bawa lebih banyak lagi? emas ini hanya menutupi dasar dari kantung ini!" Jadi raja menyuruh untuk mengisinya perlahan-lahan dengan seluruh kekayaannya, dan walaupun begitu, kantung tersebut belum terisi setengah penuh.
"Bawa lebih banyak lagi!" teriak si Kuat; "harta-harta ini belum berarti apa-apa!" Kemudian akhirnya 7000 kereta yang dimuati dengan emas yang dikumpulkan dari seluruh kerajaan berakhir masuk dalam karungnya.
"Kelihatannya belum terlalu penuh," katanya, "tetapi saya akan membawa apa yang bisa saya bawa." walaupun dalam karung tersebut masih tersedia ruangan yang kosong.
"Saya harus mengakhirinya sekarang," katanya; "Jika tidak penuh, sepertinya lebih mudah untuk mengikatnya." Dan orang kuat itu lalu menaikkan karung tersebut dipunggungnya dan berangkat pergi bersama dengan teman-temannya.
Si Peniup meniup pasukan yang mengejar merekaKetika sang Raja melihat semua kekayaan dari kerajaanya dibawa oleh hanya satu orang, dia merasa sangat marah, dan dia memerintahkan pasukannya untuk mengejar keenam orang itu dan merampas kembali karung itu dari si Kuat.
Dua pasukan kuda segera dapat mengejar mereka, memerintahkan keenam orang itu untuk menyerah dan menjadi tawanan, dan mengembalikan kembali karung harta itu atau dibunuh.
"Menjadi tawanan, katamu?" kata orang yang bisa meniup, "mungkin kalian perlu menari-nari di udara bersama-sama," dan menutup satu lubang hidungnya, dan meniupkan napas melalui lubang yang satunya, pasukan tersebut beterbangan melewati atas gunung. Tetapi komandan yang memiliki sembilan luka dan merupakan orang yang pemberani, memohon agar mereka tidak dipermalukan. Si Peniup kemudian menurunkannya perlahan-lahan dan memerintahkan agar mereka melaporkan ke sang Raja bahwa pasukan apapun yang dikirim kan untuk mengejar mereka, akan mengalami nasib yang sama dengan pasukan ini. Dan ketika sang Raja mendapat pesan tersebut, berkata,
"Biarkanlah mereka; mereka mempunyai hak atas harta itu." Jadi keenam orang itu membawa pulang harta mereka, membagi-bagikannya dan hidup senang sampai akhir hayat mereka.

Saturday, February 13, 2016

Cerpen: yang tak bisa dikatakan seorang ayah


Foto By - Zero-

Cerita Ini dibagikan ke akun FeaceBook Saya Pada Tanggal: 1 Oktober 2010 Jam 01:55

Biasanya, bagi seorang anak perempuan yang sudah dewasa, yang sedang bekerja diperantauan, yang ikut suaminya merantau di luar kota atau luar negeri, yang sedang bersekolah atau kuliah jauh dari kedua orang tuanya…..

Akan sering merasa kangen sekali dengan Mamanya..Lalu bagaimana dengan Papa?

Mungkin karena Mama lebih sering menelepon untuk menanyakan keadaanmu setiap hari, tapi tahukah kamu, jika ternyata Papa-lah yang mengingatkan Mama untuk menelponmu?Mungkin dulu sewaktu kamu kecil, Mama-lah yang lebih sering mengajakmu bercerita atau berdongeng, tapi tahukah kamu, bahwa sepulang Papa bekerja dan dengan wajah lelah Papa selalu menanyakan pada Mama tentang kabarmu dan apa yang kau lakukan seharian?

Pada saat dirimu masih seorang anak perempuan kecil……Papa biasanya mengajari putri kecilnya naik sepeda.Dan setelah Papa mengganggapmu bisa, Papa akan melepaskan roda bantu di sepedamu… Kemudian Mama bilang : “Jangan dulu Papa, jangan dilepas dulu roda bantunya” ,Mama takut putri manisnya terjatuh lalu terluka….

Tapi sadarkah kamu?Bahwa Papa dengan yakin akan membiarkanmu, menatapmu, dan menjagamu mengayuh sepeda dengan seksama karena dia tahu putri kecilnya PASTI BISA.

Pada saat kamu menangis merengek meminta boneka atau mainan yang baru, Mama menatapmu iba.Tetapi Papa akan mengatakan dengan tegas : “Boleh, kita beli nanti, tapi tidak sekarang”


Tahukah kamu, Papa melakukan itu karena Papa tidak ingin kamu menjadi anak yang manja dengan semua tuntutan yang selalu dapat dipenuhi?

Saat kamu sakit pilek, Papa yang terlalu khawatir sampai kadang sedikit membentak dengan berkata : “Sudah di bilang! kamu jangan minum air dingin!”.

Berbeda dengan Mama yang memperhatikan dan menasihatimu dengan lembut.Ketahuilah, saat itu Papa benar-benar mengkhawatirkan keadaanmu.

Foto By " GudangLucu"
Ketika Beranjak Remaja

Ketika kamu sudah beranjak remaja…..Kamu mulai menuntut pada Papa untuk dapat izin keluar malam, dan Papa bersikap tegas dan mengatakan: “Tidak boleh!”.

Tahukah kamu, bahwa Papa melakukan itu untuk menjagamu?Karena bagi Papa, kamu adalah sesuatu yang sangat – sangat luar biasa berharga..Setelah itu kamu marah pada Papa, dan masuk ke kamar sambil membanting pintu…

Dan yang datang mengetok pintu dan membujukmu agar tidak marah adalah Mama.. ..Tahukah kamu, bahwa saat itu Papa memejamkan matanya dan menahan gejolak dalam batinnya,Bahwa Papa sangat ingin mengikuti keinginanmu, Tapi lagi-lagi dia HARUS menjagamu?

Ketika saat seorang cowok mulai sering menelponmu, atau bahkan datang ke rumah untuk menemuimu, Papa akan memasang wajah paling cool sedunia…. :’)Papa sesekali menguping atau mengintip saat kamu sedang ngobrol berdua di ruang tamu..Sadarkah kamu, kalau hati Papa merasa cemburu?

Saat kamu mulai lebih dipercaya, dan Papa melonggarkan sedikit peraturan untuk keluar rumah untukmu, kamu akan memaksa untuk melanggar jam malamnya.Maka yang dilakukan Papa adalah duduk di ruang tamu, dan menunggumu pulang dengan hati yang sangat khawatir…

Dan setelah perasaan khawatir itu berlarut – larut…Ketika melihat putri kecilnya pulang larut malam hati Papa akan mengeras dan Papa memarahimu.. .


Sadarkah kamu, bahwa ini karena hal yang di sangat ditakuti Papa akan segera datang?“Bahwa putri kecilnya akan segera pergi meninggalkan Papa”

Setelah lulus SMA, Papa akan sedikit memaksamu untuk menjadi seorang Dokter atau Insinyur.Ketahuilah, bahwa seluruh paksaan yang dilakukan Papa itu semata-mata hanya karena memikirkan masa depanmu nanti…Tapi toh Papa tetap tersenyum dan mendukungmu saat pilihanmu tidak sesuai dengan keinginan Papa

Ketika kamu menjadi gadis dewasa…. Dan kamu harus pergi kuliah dikota lain… Papa harus melepasmu di bandara.Tahukah kamu bahwa badan Papa terasa kaku untuk memelukmu?Papa hanya tersenyum sambil memberi nasehat ini – itu, dan menyuruhmu untuk berhati-hati. .Padahal Papa ingin sekali menangis seperti Mama dan memelukmu erat-erat.Yang Papa lakukan hanya menghapus sedikit air mata di sudut matanya, dan menepuk pundakmu berkata “Jaga dirimu baik-baik ya sayang”.Papa melakukan itu semua agar kamu KUAT….kuat untuk pergi dan menjadi dewasa.

Disaat kamu butuh uang untuk membiayai uang semester dan kehidupanmu, orang pertama yang mengerutkan kening adalah Papa.Papa pasti berusaha keras mencari jalan agar anaknya bisa merasa sama dengan teman-temannya yang lain.Ketika permintaanmu bukan lagi sekedar meminta boneka baru, dan Papa tahu ia tidak bisa memberikan yang kamu inginkan…

Kata-kata yang keluar dari mulut Papa adalah : “Tidak…. Tidak bisa!”Padahal dalam batin Papa, Ia sangat ingin mengatakan “Iya sayang, nanti Papa belikan untukmu”.Tahukah kamu bahwa pada saat itu Papa merasa gagal membuat anaknya tersenyum?

Saatnya kamu diwisuda sebagai seorang sarjana.Papa adalah orang pertama yang berdiri dan memberi tepuk tangan untukmu.Papa akan tersenyum dengan bangga dan puas melihat “putri kecilnya yang tidak manja berhasil tumbuh dewasa, dan telah menjadi seseorang”

Sampai saat seorang teman Lelakimu datang ke rumah dan meminta izin pada Papa untuk mengambilmu darinya.Papa akan sangat berhati-hati memberikan izin.. Karena Papa tahu…..Bahwa lelaki itulah yang akan menggantikan posisinya nanti.

Dan akhirnya….
Foto By " Google Image"


Ayah dan Anak Perempuannya Saat Ketika Menikah

Saat Papa melihatmu duduk di Panggung Pelaminan bersama seseorang Lelaki yang di anggapnya pantas menggantikannya, Papa pun tersenyum bahagia….Apakah kamu mengetahui, di hari yang bahagia itu Papa pergi kebelakang panggung sebentar, dan menangis?Papa menangis karena papa sangat berbahagia, kemudian Papa berdoa….Dalam lirih doanya kepada TUHAN, Papa berkata: “Ya ALLAH tugasku telah selesai dengan baik….Putri kecilku yang lucu dan kucintai telah menjadi wanita yang cantik….Bahagiakanlah ia bersama suaminya…”

Setelah itu Papa hanya bisa menunggu kedatanganmu bersama cucu-cucunya yang sesekali datang untuk menjenguk…Dengan rambut yang telah dan semakin memutih….Dan badan serta lengan yang tak lagi kuat untuk menjagamu dari bahaya….Papa telah menyelesaikan tugasnya…

Foto By " Asta Fehah"
.

Papa, Ayah, Bapak, atau Abah kita…

Adalah sosok yang harus selalu terlihat kuat…Bahkan ketika dia tidak kuat untuk tidak menangis…Dia harus terlihat tegas bahkan saat dia ingin memanjakanmu. .Dan dia adalah orang pertama yang selalu yakin bahwa “KAMU BISA” dalam segala hal..

Saya mendapatkan notes ini dari seorang teman, dan mungkin ada baiknya jika membagikannya kepada teman-teman yang lain.

Tulisan ini aku dedikasikan kepada teman-teman wanita ku yang cantik, yang kini sudah berubah menjadi wanita dewasa serta ANGGUN, dan juga untuk teman-teman pria ku yang sudah ataupun akan menjadi ayah yang HEBAT !
Foto By " ReyaRifin.Com"

Yup, banyak hal yang mungkin tidak bisa dikatakan Ayah / Bapak / Romo / Papa / Papi kita… tapi setidaknya kini kita mengerti apa yang tersembunyidibalik hatinya.*

walaupun keterangan di atas hanya untuk anak perempuan..di ganti ajah anak perempuan jadi laki-laki..

Friday, February 12, 2016

Si kancil Dan Buaya


Suatu hari Si Kancil, binatang yang katanya cerdik itu, sedang berjalan-jalan di pinggir hutan. Dia hanya ingin mencari udara segar, melihat matahari yang cerah bersinar. Di dalam hutan terlalu gelap, karena pohon-pohon sangat lebat dan tajuknya menutupi lantai hutan. Dia ingin berjemur di bawah terik matahari. Di situ ada sungai besar yang airnya dalam sekali. Setelah sekian lama berjemur, Si Kancil merasa bahwa ada yang berbunyi di perutnya,..krucuk…krucuk…krucuk. Wah, rupanya perutnya sudah lapar. Dia membayangkan betapa enaknya kalau ada makanan kesukaannya, ketimun. Namun kebun ketimun ada di seberang sungai, bagaimana cara menyeberanginya ya? Dia berfikir sejenak. Tiba-tiba dia meloncat kegirangan, dan berteriak: “Buaya….buaya…. ayo keluar….. Aku punya makanan untukmu…!!” Begitu Kancil berteriak kepada buaya-buaya yang banyak tinggal di sugai yang dalam itu.


Sekali lagi Kancil berteriak, “Buaya…buaya… ayo keluar… mau daging segar nggak?”

Tak lama kemudian, seekor buaya muncul dari dalam air, “Huaahhh… siapa yang teriak-teriak siang-siang begini.. mengganggu tidurku saja.” “Hei Kancil, diam kau.. kalau tidak aku makan nanti kamu.” Kata buaya kedua yang juga muncul.

“Wah…. bagus kalian mau keluar, mana yang lain?” kata Kancil kemudian. “Kalau cuma dua ekor masih sisa banyak nanti makanan ini. Ayo keluar semuaaa…!” Kancil berteriak lagi.
“Ada apa Kancil sebenarnya, ayo cepat katakan,” kata buaya.
“Begini, maaf kalau aku mengganggu tidurmu, tapi aku akan bagi-bagi daging segar buat buaya-buaya di sungai ini,” makanya harus keluar semua.

Mendengar bahwa mereka akan dibagikan daging segar, buaya-buaya itu segera memanggil teman-temannya untuk keluar semua. “Hei, teman-teman semua, mau makan gratis nggak? Ayo kita keluaaaar….!” buaya pemimpin berteriak memberikan komando. Tak berapa lama, bermunculanlah buaya-buaya dari dalam air.


“Nah, sekarang aku harus menghitung dulu ada berapa buaya yang datang, ayo kalian para buaya pada baris berjajar hingga ke tepi sungai di sebelah sana,” “Nanti aku akan menghitung satu persatu.”

Tanpa berpikir panjang, buaya-buaya itu segera mengambil posisi, berbaris berjajar dari tepi sungai satu ke tepi sungai lainnya, sehingga membentuk seperti jembatan.
“Oke, sekarang aku akan mulai menghitung,” kata Kancil yang segera melompat ke punggung buaya pertama, sambil berteriak, “Satu….. dua….. tiga…..” begitu seterusnya sambil terus meloncat dari punggung buaya satu ke buaya lainnya. Hingga akhirnya dia sampai di seberang sungai. Hatinya tertawa, “Mudah sekali ternyata.”

Begitu sampai di seberang sungai, Kancil berkata pada buaya, “Hai buaya bodoh, sebetulnya tidak ada daging segar yang akan aku bagikan. Tidakkah kau lihat bahwa aku tidak membawa sepotong daging pun?” “Sebenarnya aku hanya ingin menyeberang sungai ini, dan aku butuh jembatan untuk lewat. Kalau begitu saya ucapkan terima kasih pada kalian, dan mohon maaf kalau aku mengerjai kalian,” kata Kancil.

“Ha!….huaahh… sialan… Kancil nakal, ternyata kita cuma dibohongi. Aws kamu ya.. kalau ketemu lagi saya makan kamu,” kata buaya-buaya itu geram.
Si Kancil segera berlari menghilang di balik pohon, menuju kebun Pak Tani untuk mencari ketimun.

Wednesday, February 3, 2016

Atlantis Peradaban Tinggi Yang pernah ada


Ilustrasi Foto Of Atlantis
GalaksiNews:
Sekitar 350 SM , Plato menulis tentang sebuah pulau yang indah di Samudera Atlantik yang hilang di telan gelombang laut dalam satu hari dan satu malam . Butuh waktu dua buku untuk menjelaskan sejarah dan rincian dari pulau ini . Selama bertahun-tahun orang telah mencari kota Atlantis yang hilang secara misterius ini.
Ilustrasi Foto Of Atlantis

Plato menggambarkan Atlantians adalah kota modern yang di dalamnya terdapat istana ,pelabuhan , kuil dan dermaga. Ibu kota atlantis dibangun di atas bukit dan dikelilingi oleh cincin air yang tergabung dengan terowongan yang cukup besar yang mengarah ke laut serta dapat di lalui oleh kapal besar.wilayah atlantis terdiri atas lautan daratan perbukitan dan gunung. di wilayah dataran atlantis sebagian besar di gunakan untuk pertanian yang mana wilayah ini mempunyai tanah yang sangat subur. Plato menggambarkan atlantis sebagi kota dengan bangunan yang menabjubkan.
Ilustrasi Foto Atlantis

Selama lebih dari dua ribu tahun kisah Atlantis itu hanya sebuah cerita . Kemudian pada tahun 1800an IGNATIUS DONNELLY yang berasal dari amerika terpesona dengan kisah ini dan menulis sebuah buku yang berjudul " Atlantis, the Antediluvian World" atau atlantis kota yang hilang, yang menjadi buku terlaris pada masa itu. ignatius juga mempelajari sejarah banjir besar yang menerpa mesir sampai mexoco dan mempercayai bahwasanya kota yang hilang itu ada dan sejak itu beberapa buku juga di terbitkan tentang kota atlantis yang hihilang.

Ilustrasi Foto Of Alantis
banyak spekulasi tentang cerita atlantis ini dan teori yang paling di percaya adalah teori arkeolog yunani yang bernama angelos galanopoulus di akhir tahun 60an, dia menyatakan hilangnya kota atlantis di sebabkan oleh letusan dasyat gunung berapi yang membongkar pulau santorini di mediterania dan menghapus sebagian perdaban pulau-pulau di yunani. satu-satunya hal yang salah plato secara khusus menyebutkan kota itu dekat pilar hercules yang di anggap tepat dekat dengan yunani..

Ilustrasi Foto Of Atlantis
Lokasi yang tepat dari kota yang hilang ini sampai kini masih di pertanyakan oleh banyak orang, seperti foto interpreter angkatan udara inggris J.M. Allen  . Dia yakin Atlantis ada di Altiplano , dekat Pegunungan Andes , di Bolivia .The channeler psikis terkenal Edgar Cayce percaya sisa-sisa akan ditemukan di lepas pantai Florida dekat Bimini Island. dan masih banyak tempat yang di sangkakan orang-orang adalah tempat kota yang hilang ( ATLANTIS ). yang sebagian orang percaya kalau atlantis hanya mitos belaka.

Tuesday, February 2, 2016

Kapal Mesum Itu Akhirnya Hancur Di terjang Badai



GalaksiNews:
80 Tahun yang lalu sebuah kapal yang di peruntukkan sebagai tempat prostitusi dan perjudian hancur di terjang badai.

SS Monte Carlo ya itulah puing-puing kapal yang tergeletak hancur di pantai dekat Coronado Shores , California . deretan mesin jackpot, furniture, dan botol-botol wiski terlempar keluar dari sebuah kapal karam ss monte carlo. dalam insiden ini hanya 2 orang kru yang selamat dan dapat di selamatkan.

tak seorangpun yang berani maju untuk mengklaim kepemilikan kapal tersebut. yang mana kapal tersebut telah di jadikan tempat prostitusi dan perjudian ilegal di perairan internasional, namun banyak anggapan bahwa hal itu telah di jalankan oleh penduduk lokal.

apabila air laut surut ( pasang Surut air laut ) puing-puing dari kapal tersebut akan terlihat kepermukaan. kapal dengan panjang 90 meter ini hancur di terjang badai elnino 80 tahu silam.


pada masa-masa kejayaannya, kapal ini di kunjungi sekitar 15.000 orang  perminggunya. seperti yang di katakan oleh Joe Ditler direktur eksekutif dari Coronado Museum Sejarah & Seni kepada San Diego Union Tribune, ia mendapat laporan kesaksian dari pengunjung kapal tersebut pada masanya, mereka dapat melihat perempuan dengan pakaian yang minim menari-nari di atas di atas meja judi kapal tersebut.

saat pelucutan bagian-bagian kapal tersebut banyak terdapat peralatan judi, minuman keras, dan coin perak yang berserakan di lantai dengan jumlah yang mencapai $ 140.000 yang masih harus di klaim.

Saturday, January 30, 2016

PERCAYA GAK PERCAYA "NENEK UMUR 52 TAHUN YANG MASIH TERLIHAT BELIA"

GalaksiNews:
Pamela Jacobs seorang ibu dari belgia yang berumur 52 tahun. dikutip dari laman Goodhousekeeping.com yang memuat rahasia awet muda wanita tersebut...? Selain gen yang ia miliki memang bagus, ia juga menerapkan diet sehat. Selain itu Pamela juga yakin bahwa kebiasaannya memakai sunscreen selama ini turut berperan, juga ketergantungannya pada minyak kelapa yang membuatnya tampak lebih muda, dan selalu merasa muda.
Fresh-faced: She uses Laura Mercier tinted moisturiser and has a make-up routine that lasts five minutes
PAMELA JACOBS IN INSTAGRAM

Pamela mengaku menggunakan minyak kelapa pada banyak hal, dressing untuk salad yang ia makan, pemanis dalam kopinya, menghapus makeup, perawatan rambut, dan pelembab tubuh. "Saya penggemar berat minyak kelapa. Ibu saya memakaikannya pada rambut dan kulit kami saat kami (dia dan saudaranya) masih muda, jadi saya sudah terbiasa", jelasnya.
Svelte: Pamela says her age-defying looks are the result of healthy eating, regular exercise and coconut oil
PAMELA JACOBS IN INSTAGRAM

Bukan hanya itu, dia juga tidak mengkonsumsi gandum serta buah-buahan dengan kadar gula tinggi, karena dia merasa perutnya akan menjadi buncit. Selain itu semuanya normal. "Saya menerapkan pola 80/20. 80% makan sehat, 20% makan makanan manis, minuman manis, atau cokelat organik.
PEMELA JACOBS IN INSTAGRAM

Untuk olahraga, Pamela rajin yoga dan body conditioning, yang seringkali ditambah sesi sauna. Dia yakin bahwa olahraga yang ia lakukan membuat kulitnya selalu sehat dan terasa segar.
Close: Pamela, pictured with her 21-year-old son Marley, says she would rather date a man her own age
PAMELA AND SON

Pikiran positif serta selalu bahagia, juga dirasa turut berperan untuk menjaga jiwa dan raganya tetap muda. "Saya rasa rahasia awet muda saya adalah tersenyum setiap hari. Awet muda ini membuat saya merasa bahagia dan percaya diri", tambahnya.

Wednesday, April 15, 2015

Love story Fire and Water

Fifi Yuniskya 23 April 2014· 
Ketika malam hujan turun denganderasnya ada suatu sosok Api yang hidupsebatang kara. Api itu terlindungi dengan sehelai daun yang melindungi daripercikan air hujan agar Api itu tidak padam, dan tidak lama hujan pun mulaimeredah banyak genangan air dimana –mana tetapi ada sesuatu genangan air yang berbeda dari yang lain , dan ternyatagenangan air itu bergerak , Api yang sendirian itu pun mulai heran karena adayang aneh dengan genangan air tersebut, setelah dia mendekati genangan air itu,mulailah genangan air itu membentuk tubuh mungil seperti perempuan imut, sosokApi pun sangat heran pertama kali nya dia menemui sesosok air yg bertubuh perempuanimut tersebut, tiba – tiba Air perempuan imut itu Senyum riang dihadapan Apiyang menghampiri dia. Sosok Api pun ikut tersenyum :) . Setelah Beberapa Menit Merekamulai berbicara panjanga lebar , dari asal muala mereka terbuat dan salingcurhat, akhir nya Api pun mulai merasa sangat nyaman dengan sesosok airperempuan itu dan Air Perempuan itu juga sangat nyaman berada bersama sosok Apitersebut. . Sosok Api pun ingin bersama nyalebih lama, mulai lah kisah cinta mereka disini. Tetapi ada suatu kendala yangsangat besar, Ketika Api inginmenggandeng tangan Perempuan Air itu tiba-tiba muncul asap misterius dan Si Airperempuan itu Pun merintih kesakitan dan tangan nya mencair, Api pun memintamaaf, dia berkata “Aku sangat menyesal, Aku hanya ingin Menggandeng tanganmu!!” . Perempuan Air pun Tersenyum ^_^, Namun Api itu mempunyai beberapa ide dia melihat Batu yang berukuran Sedangpanjang, Batu itu lah yang Mereka gunakan sebagai pembatas nya untuk merekasaling bergandengan tangan . . Kemudian mereka ingin berjalan –jalan mengelilingi hutan , ketika mereka sudah puas dan senang Api punmemutuskan ingin beristirahat didalam batu yang berbentuk Goa kecil yang dialihat. Mereka akhir nya beristirahat didalam goa kecil dan melepaskan batu yangmereka pegang untuk bergandengan. . Mereka sangat banyak sekaliberbincang hingga merasa lelah, api pun memutuskan untuk tidur bersama air didalam goa batu kecil itu, tak terasamalam semakin larut hingga mataharipun bersinar, api pun tebangun dari tidurnya namun ketika api melihat perempuan air itu menyusut menjadi kecil. Api punburu-buru ingin mengajak nya Ketempat yang lebih teduh Ketika Api inginmengambil batu pembatas gandengan tangannya yang diletakan di tanah ternyatahilang, Api pun tak sengaja melihat semut yang membawa batu tersebut lalu larilah Api keluar goa untuk mengambil batu tersebut Namun dia tak melihat Adaseorang manusia yang tak sengaja melintas Api pun terkejut manusia itu menghampirinya dan Api itu langsung dibawa dengan setangkai Kayu oleh manusia, Air yangbaru bangun tidur pun kaget melihat api dibawa oleh manusia Air pun membuntutimanusia tersebut sampai kerumah manusia itu namun malang nya Api dikurung ataudibilang dibuat untuk Lampu penerang rumah manusia tersebut yang dilapisi kaca,Air pun menghampiri Api yang telah terkurung dilampu kaca yang terletak diatasmeja, Namun Api itu terlihat sedih tidak bisa keluar dari lampu kaca yangmengurung nya tetapi Perempuan air itu malah tersenyum agar Api tidak terbawasuasana sedih, akhir nya Air pun menemani Api yang terkurung di lampu kacatersebut hingga Air itu tertidur nyenyak sampai tidak sadar akan diri nya yangmulai mencair perlahan-lahan. Api pun melihat Air yang mulai mencair danbrusaha untuk membangunkan nya agar tidur nya tidak berdekatan dengan Api yangterkurung dilampu kaca tak lama kemudian Air pun mulai Menyusut hingga menjadikering (meninggal dunia), Api pun sangat menyesal dan sangat sangatsedih malam pun semakin larut Manusia pun ingin beristirahat dan memutuskanmemadamkan Api yang berada di Lampu Kaca tersebut dan Api pun mulai dipadamkanakhir nya Api pun juga meninggal tetapi setelah mereka berdua telah meninggal merekabertemu lagi di sisi dunia lain dan mereka pun hidup bahagia disana.










Popular Posts

Disqus Shortname

Comments system